Minggu, 19 April 2015

jurus sakti

Salah satu momen terbaik adalah bangun jam 3 pagi, lantas bergegas menyentuh air suci, karena banyak orang enggan ketika bangun sepagi itu lantas kemudian bergegas menyentuh air dingin. Semangat itu hanya muncul pada orang2 yang memiliki jiwa besar dan kuat. Membeber sajadah berkalung surban penahan dinginnya pagi, jungkung duduk berdiri, sujud berkali-kali dan mulut tak berhenti menyebut nama suci. Dan ketika adzan subuh berkumandang, lanjut lagi ritual hingga matahari benar2 menampakkan sinarnya. Aktivitas ini, menurutku adalah pengisi pagi paling sakti untuk memulai hari.
Bukan hanya permasalahan pemenuhan kewajiban semata, namun juga dampak secara mental. Mental seorang hamba akan terbangun lebih kuat dibandingkan dengan mereka yang membuka mata di saat matahari berada di posisi lebih tinggi. Udara pagi layaknya suntikan semangat, menyegarkan mata dan hati sekaligus mata hati. Yang enggan menghirup hawa pagi seraya mata benar2 terbuka kehilangan momen istimewa, mereka menghirup udara pagi sambil terlelap mimpi.

Sebetulnya ketika orang terbangun bisa dinilai seberapa kuat semangat yang ia miliki untuk berdiri menuju 'kewajiban'. Aktivitas pertama yang ia lakukan ketika mata terbuka, pilihannya ; gelagapan mencari HP dan melihat jam kemudian berdiri, atau gelagapan mencari HP melihat jam dan malah kemudian mengecek RU 'recent update bbm'. Kalian masuk kategori mana ??'

Ber'tasyadud' pada diri sendiri, ber'tasamuh' pada orang lain

Ber'tasyadud' pada diri sendiri, ber'tasamuh' pada orang lain
Tasyadud berasal dari kata 'syadda' atau 'syadiid' yang berarti sangat, tasyadud bermakna memperketat, atau berlaku disiplin, ber'tasyadud' pada pribadi masing-masing adalah upaya untuk membentuk jiwa disiplin dan jiwa berprinsip tegas. Menentukan kejawiban-kewajiban tertentu walau menurut orang lain itu bukan hal yang wajib dan mendasar, mempertegas pada jiwa untuk berpola hidup sebagaimana cita yang diinginkan. Ketika seseorang berdiri pada suatu keyakinan lantas kemudian berlaku sangat fanatik atas keyakinan itu, seringkali menciptakan suatu pemahaman bahwa orang yang berpegang pada keyakinan berbeda dengannya adalah salah. Dan ini sangat rentan pada tindakan atau respon 'ihtiqor' atau diskriminasi. Sehingga muncullah gerakan fundamental dan radikal.
Setiap orang berhak memilih pribadi mana dan bagaimana yang ia tuju, namun bukan berarti memiliki hak untuk mengarahkan orang lain untuk mengikutinya. Tugas ajakan atau tugas menyampaikan risalah adalah bersifat 'wajib' bukan hak. Islam sangat menghargai hak manusia, 'lakum dinukum wa liy ad-diin' menjelaskan bahwa hak beragama adalah milik individu-individu, kewajiban berdakwah ada di pundak muslim namun hasil akhir adalah kehendak Allah.

Tasamuh yang memiliki arti toleransi, jejak rekam sejarah islam dalam hal bertoleransi bisa diliat dan dikaji dari salah satu poin di piagam madinah, bahwa tiap orang memiliki hak hidup, hak berkomunikasi, hak mencari nafkah yang sama. Ini berlaku tidak hanya bagi muslim melainkan non muslim yang hidup berdampingan dengan muslim. Cara pandang yang menjadi salah satu acuan di tengah perbedaan yang beragam dan cukup membingungkan. Menanamkan jiwa bertoleransi bagi sesama, menghargai perbedaan sebagai bagian dari rahmat Tuhan. Tasamuh itu mengandung sisi 'husnud dzon' yang sangat kental, dimana ketika memandang sebuah kesalahan atau perbedaan, maka berperasangka bahwa itu adalah sebuah kekhilafan atau juga proses menuju kebenaran. Ber-husnud dzon itu layaknya menghargai sunnatullah yang tak satupun manusia dapat menyingkapnya.