Sisi hidup mana yang tak bermanfaat, ciptaan
tuhan mana yang tak bisa dijadikan renungan. Sudah jelas dan tertulis di
kitabNya, seluruh ciptaan ada dan diciptakan bukan tanpa alasan, seluruh
fenomena terjadi bukan tanpa sebab. Kata 'yatafakkarun' di kitabNya tertulis
lebih dari sepuluh kali, dan Tuhan 'menulisnya' dengan embel2 anjuran bukan
perintah, anjuran Tuhan adalah perintah dengan rahasia hikmah yang luar biasa.
Berpikir tentang alam dan seisinya, berpikir tentang kejadian dan sebab akibat
disampingnya, berpikir tentang alasan diciptakannya manusia. Proses panjang
berpikir yang bakal menuntun manusia menjadi manusia yang kaffah menurut konsep
Tuhan dan RasulNya. Semua tertulis dan akan tersampaikan hingga anak cucu
manusia, lantas akankah generasi manusia saat ini akan menjadi generasi dengan
daya pikir kuat dan mendalam, ataukah menjadi generasi batu loncatan bagi
penerus generasi selanjutnya? Ini tugas manusia saat ini, berproses menjadi
manusia luar biasa dan akan dikenang sepanjang masa oleh anak cucu. Semoga ...
#kabulkan
Kamis, 26 Maret 2015
santri
Pemberdayaan alumni, mengakar kuat di tingkat
regional, wilayah hingga nasional. Pembentukan karakter ala filosofi pesantren,
pembentukan mental santri. Santri berdiri diatas bumi pertiwi, bersarung
berkopyah, berdandan ala santri dimanapun bumi dipijak. Berapa banyak santri
yang bertahan bersarung di tengah kumpulan orang bercelana. Identitas santri,
melekat hingga lubuk hati. Santri nusantara, pengemis ilmu agama dan kearifan
nusantara. Mencari jati diri di tengah hiruk pikuk globalisasi. Coba saja cari
di google, apa maknanya atau wikipedia sekalipun apa definisi santri, coba saja
cari dimanakah pesantren berdiri, ribuan mewarnai gugusan pulau bumi pertiwi,
menyandingkan panji bendera pesantren dengan panji merah putih suci, karena
santri bukan tipikal manusia yang lupa diri dan tak tau diri. Santri tahu, dari
bumi mana nasi yang ia konsumsi, dari bumi mana pohon tumbuh berdiri. Santri
harus tahu mana yang harus diperjuangkan, dan yang harus direlakan, bangsa ini
besar mungkin saja santri ikut andil dalam proses pembangunannya. Santri tahu
bumi mana yang ia pijak, pertiwi ini dihuni rakyat yang beragam, dan santri
harus tahu bagaimana cara terbaik bertoleransi. Baiklah, harus ada nama yang
dimunculkan untuk memperkuat argumen ini, sebut saja KH Wahid Hasyim, anggota
BPUPKI, salah seorang pencetus piagram jakarta yang selanjutnya diikrarkan
menjadi pembukaan uud 45, KH. Abdurrahman Wahid, presiden ke 4, bapak demokrasi,
yang memperoleh berbagi gelar internasional, mungkin gus dur adalah salah satu
tokoh yang paling memanusiakan manusia. KH. Din Syamsuddin, tokoh agama yang
saat ini menjabat ketua MUI. Berbagai tokoh diatas, ketika seseorang
menanyainya 'apakah anda santri?' maka mereka akan segera berkata 'saya santri,
dan masih santri'. Masih ada sosok-sosok lain yang pernah berjuang merebut dan
mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Santri-santri, jangan cepat berbangga diri
sebelum memberi sumbangsih ke negeri ini. Menganalisa, mencari solusi,
memperbaiki, menemukan racikan jitu untuk negeri. Santri-santri, kalau orang
menyincingkan baju untuk bergelut, maka santri perlu menyincing sarung,
mengangkat sedikit kopyahnya, dan siap berkarya untuk bangsa.
sepertiga
Tuhan bangunkan aku di sepertiga akhir malamMu,
Sodorkan aku semangat untuk menggerakkan tubuh
ini,
Beri kesempatan menyentuh air suci dan ku
basuhkan ke mukaku.
Sajikan aku wangi bumiMu hingga ku enggan
beranjak dari sujudku,
malamMu adalah ke-luar biasa-an yang luar
biasa, dimana mata-mata terpejam dan aku membuka mata.
Semakin malam semakin pagi, kau masih
menjanjikan surya terbit dari timur.
Hari ini ... Ku buka mata
Selasa, 17 Maret 2015
sombong
Kesombongan seringkali menyisakan sebuah dampak
kerusakan atau bahkan kehilangan, sombong akan apa yang sudah di tangan, atau
bahkan ada juga yang menyombongkan sesuatu yang belum dimiliki. Sombong itu
bukan sifat manusia seharusnya, itu layak disandingkan hanya kepada Tuhan,
tragedi diturunkannya adam ke bumi adalah sebab congkaknya iblis, dia yang
merasa lebih mulia dibanding manusia merasa lebih patut jadi penghuni surga,
lantas iblis sombong dan mencoba memanfaatkan kelalaian adam. Tragedi sombong
dan lalai, awal mula semua terjadi, hingga saat ini banyak manusia yang
memiliki sifat Tuhan itu, sombong dan congkak, lantas apa balasannya, kemana
lagi si manusia diturunkan, apa yang diturunkan, ada banyak pilihan Tuhan
menghukum manusia, bisa saja harga diri manusia diturunkan, harta benda dibumi
hanguskan, atau bahkan lebih buruk, dibinasakan turun ke bumi lebih dalam.
Manusia memiliki kepala yang lunak dan elastis, cepat besar ketika disanjung
atau mendapat keuntungan tertentu, dan cepat kempes ketika sial dan cobaan
datang bertubi. Maka, sewajarnya adalah memiliki sifat rehdah hati, turun ke
bumi, membumi karena bakal kembali ke bumi. Kepala dan tangan menengadah ketika
nama Tuhan yang ia sebut. Sombong dan lalai harus dilawan dengan tawadlu' dan
waspada, bahwa tak setiap waktu manusia ingat tuhan dan asal muasalnya ia
dicipta.
Cateeeeeet.
Cateeeeeet.
Beberapa hari lalu salah satu temanku mengirim
broadcast di bbm, disitu tercantum bahwa ada seminar dengan narasumber ulil
abshar dan idrus madani, dua tokoh yang pernah berselisih di satu forum. Mereka
berdua merupakan tokoh yang memiliki pendapat yang berseberangan, namun mereka
berasal dari satu paham yakni aswaja an-nahdliyah. Tapi terlepas dari itu,
mereka memiliki pandangan yang mencolok, satu sisi ulil yang notabene adalah
tokoh pendiri JIL, yang merupakan kelompok yang menyuarakan dan menyerukan konsep
toleransi, moderat, dan liberal dalam beragama, dan di sisi satunya idrus
madani seringkali berseberangan dengan konsep yang ditawarkan oleh ulil.
Berangkat ke kampus, dengan mengenakan kostum
agak 'necis', hem lengan panjang, sweater, plus sepatu sneaker putih hasil
pinjaman. Terlihat sedikit lebih muda dari usia dan semesterku kini. Bertemu
beberapa teman disana, bincang pagi yang asik menurutku, mereka aktivis kampus,
penggiat buku 'berat', dan otomatis konten bincang pagi yang berat pula tapi
asik.
Beberapa saat kemudian, ku masuk ke gedung
rektorat tempat dilaksanakannya seminar, ini pertama kalinya ku menginjak kaki
disini. Sembari menunggu ulil abshar tiba, ku duduk di lobi rektorat. Lantas
ulil abshar tiba dengan kawalan oleh 'satpam' mahasiswa, teman-teman menyalami
beliau, namun tidak diriku, ku cukup melihat dari dekat, dia yang 'status'nya
'serumpun' denganku buatku kagum. Orang yang selama ini ku kagumi dengan pola
pemikirannya, akhirnya bertatap muka. Produk pemikiran yang dianggap aneh oleh
beberapa kalangan, bahkan pernah divonis 'halal' darahnya oleh sekelompok
fundamental. Tapi aku kagum dan penggiat tulisannya di situs JIL. Dia terlihat
santai dengan batik lengan pendek dan menenteng tablet. Ku mengikuti dari
belakang.
Ulil, menurutku berdiri tegap dan tegak diantara
gempuran dan gesekan. Bertahan pada pola pemikiran yang menurutnya adalah
solusi efektif di tengah keberagaman pemahaman mengenai agama, menyodorkan
konsep berbangsa yang santun ketika bangsa ini dihadapkan aksi sikut menyikut
antar golongan. Ulil tak berniat menyikut, melainkan 'mengelus' namun dianggap
oleh beberapa golongan sebagai 'sikutan' atau bahkan 'tamparan'. Dan tak
dihindarkan memang, dia 'disikut' dan 'disikat', dimintai pertanggunggjawaban
dan bahkan disuruh bertaubat. Ulil menawarkan kebhinneka-an, mengajak pada
toleransi.
Bhinneka Tunggal Ika, cita-cita leluhur bangsa,
semoga dikembalikan ke posisi semula, posisi dimana ia dijunjung dan dipegang
erat sebagai satu semboyan, diaplikasikan di kehidupan bangsa dimanapun
tempatnya, mulai cangkruk warung kopi hingga 'cangkruk' di kantor para dewan
yang 'terhormat'.
kritik sedikit
Ada borok menganga di dalam sistem sosial kita,
borok yang mulai kering kini tergaruk oleh tangan-tangan jahil perusak tatanan
sosial masyarakat. Berlakunya sebuah sistem ala 'e' entah itu berlaku di e-ktp,
e-government hingga ke e-ntahlah. Pola kepemimpinan dalam sebuah sistem
demokrasi saat ini yang didukung pula dengan kecanggihan IT harus berlaku
sangat hati-hati. Smartphone kini bukan sesuatu yang wah di mata, berapa pasang
tangan yang tiap hari geser atas bawah, kanan kiri, baca info sana sini. Masyarakat
memegang alat pantau yang luar biasa, mengendalikan respon publik secara luas
hanya dengan menyantumkan '#'. Tatanan sosial di tengah maraknya gempuran
produk impor kini semakin terkikis, ini akan makin parah ketika tak ada tindak
lanjut bahwa masyarakat harus mampu mengontrol bukan dikontrol, mendayagunakan
bukan menyalahgunakan. Mempersiapkan masyarakat yang siap dihadapkan dengan
realita transnasional, perdagangan bebas, serta komunikasi tanpa batas adalah
pekerjaan rumah yang segera dilakukan, mengingat status dan peran bangsa ini di
mata internasional semakin diperhitungkan. Tak ada kejadian yang tanpa teori,
tak ada teori yang benar mutlak, tetap ada pengecualian-pengecualian. Bangsa
ini perlu memperbaiki 'interior' mengokohkan pondasi, mempercantik 'eksterior'
dan kita siap dikunjungi oleh bangsa manapun.
Sabtu, 14 Maret 2015
Script-Sweat
Perpustakaan ...
Tempat yang paling jarang aku kunjungi,
harusnya tempat itu-lah yang ku buat mencari informasi untuk bekal
bereksplorasi. Perpustakaan kampusku, menurutku yang terbaik, gedung berlantai
tiga, dengan prosedur 'gate' yang bagus, jangan coba2 masuk perpus kalau tak
memegang ktm atau kartu sakti. ketika bunyi 'tiit' tak terdengar, tanda tak
boleh masuk. Perpustaan kampusku, ribuan koleksi buku, media katalog digital
yang sangat membantu. Suatu saat ketika ku memasuki ruang khusus skripsi, ku
bertemu dengan salah seorang teman, Ku berbincang ringan dengannya. Saking
butuhnya aku mencari sumber buat tambahan skripsiku, ku punya niat lucu waktu
itu. Ku bilang ke temenku ' aku tahu cara efektif membawa tumpukan skripsi
tanpa harus ketahuan petugas', lantas dia bertanya 'apa bang?'. Ku jawab dengan
detail ' coba kau lihat di atas kepalamu, ada sensor api, ku bisa saja
menyalakan alarm kebakaran tanpa memencet tombol emergency, ku cukup membawa
korek dan menyalakan api di dekat sensor itu'. 'lantas bang?' tanya dia lugu. '
alarm akan menyala, dan pengunjung akan lari tunggang langgang'. ' dan saat itu
ku ambil tumpukan skripsi sambil ikut lari-lari, hehehe' jawabku sambil senyum
kecut.
'skripsi ini menyiksaku' gumamku sambil menarik
napas panjang.
'tak pernah terbayang akan berakhir selama ini,
bahkan saat maba pun tak pernah terlintas di otakku kalau kuliahku bakal
serumit ini'
Ku bolak balik halaman skripsi yang ku pinjam,
dan aku tak menemukan yang ku cari. Entahlah ...
'skripsi, sekrispi, skriptis, striptis, skripsweet, skripsweat, sekrik-krik'
bermain logika
Logika kadangkala bersebarangan dengan hati, aneh memang
ketika seseorang dengan tingkat intelektual tinggi namun tidak menunjukkan
kematangan dalam ber’main’ hati. hati berdiri dengan membisikkan sesuatu,
lantas logika berperan sebagai penentu keputusan dengan segala prosesnya,
disini proses dipertanyakan apakah logika mampu berperan lebih dalam menentukan
keputusan paling tepat dalam setiap kondisi yang dihadapi oleh manusia. Respon
cepat yang ditunjukkan oleh hati tanpa mendayagunakan logika bisa saja berakibat
fatal namun itulah manusia, karakter bawahan yang sulit dikontrol.bahkan aku
menulis inipun tanpa menggunakan hati bersih dan logika cerdas, maaf ...
Senin, 09 Maret 2015
kebiasaan
Ada yang terjerat oleh kebiasaan
Ada yang tertekan oleh kebiasaan
Ada yang merindukan kebiasaan
Ada yang memaksa terbiasa
Ada yang merasa tak terbiasa
Yang terbaik adalah kebiasaan yang luar
biasa
Aktivitas manusia berlangsung lama, dalam
periode yang lama dia beraktivitas yang sama dengan orang yang sama di tempat
yang sama. Apakah itu termasuk 'jeratan'?, kukira tidak namun dengan catatan,
bahwa kebiasaan yang sama secara konsisten memproduksi hal yang sama dengan
kualitas dan kuantitas yang tak sama. Seorang pelukis akan bertahan dengan
kebiasaan melukis, seorang pemahat bertahan dengan kebiasaan memahat, dan
dengan tempo yang lama pula.Kalaulah jika mereka berdua berhenti dari kebiasaan
itu, maka mereka merasa tak terbiasa. Produktivitas mereka akan dipertanyakan.
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah aku dan kau sudah memiliki kebiasaan
yang produktif??
Bumi Tuhan
Ketika kau singgah ke belahan bumi yang
lain, potensi untuk menggapai sukses dan mangeruk rizki Tuhan selalu terbuka
lebar. Berbekal kejelian memilih celah untuk potensi diri yang lebih pantas di singgahan
lain. Mahluk tuhan yang belum pernah kau tatap sudah di'setting' tuhan' sebagai
lahan potensimu. Selagi ada waktu, asah apa yang kau anggap bisa namun tetaplah
mencari tahu pengetahuan lain sebagai tiang-tiang penyanggah potensimu.
Bumi Tuhan tak akan sepenuhnya jadi bumi
manusia sepenuhnya, keyakinan berbekal potensi dan pengetahuan akan jadi kunci
untuk bumi yang baru kau singgah. Bumi tuhan memang bukan sepenuhnya bumi
manusia, namun Tuhan begitu kaya, Dia menyilahkan manusiaNya 'menggarap'
bumiNya dengan segala potensinya dengan izinNya. Kalaulah manusia tak mampu Mengeruk
rizkinya, jajaki bumi tuhan yang lain.
Tuhan benar-benar murka pada manusiaNya
yang enggan menggerakkan tangannya dengan potensinya, untunglah Tuhan maha
pemaaf, bisakah kau bayangkan jika Tuhan tak memiliki sifat, jadi apa
manusia-manusia fasiq di bumi ini. Bagi Tuhan, kefasikan adalah kelalaian yang
luar biasa, Tuhan 'merawat' manusia dengan sempurna namun manusia membalas
dengan 'kelupaan' yang cepat dan menjadi 'biasa lupa'. Tuhan suka manusia yang
tak lalai, Tuhan suka manusia yang menggarap bumiNya, Tuhan lebih suka pada
manusia penggarap bumi yang tak lalai.
budaya kita
Banyak yang melestarikan budaya dengan cara
yang salah, berdalih menanamkan budaya untuk generasi malah merusak budaya yang ada.
Lantas bagaimana solusinya,
Apa yang sudah ada merupakan hasil
kreatifitas masyarakat pada zaman dulu, generasi selanjutnya bertugas
mempertahankan dan menanamkan pada anak cucu sebagai jiwa bangsa, harga diri
dan wajah bangsa di mata dunia.
Manakah yang lebih baik, budaya tergeser
oleh budaya lain ataukah mengemas budaya dengan hal kurang pantas namun tetap
tampak di permukaan.
Masyarakat memiliki kecenderungan latah dan
mudah terprovokasi oleh kabar burung, perbincangan akan mengalir deras ketika
sebuah isu muncul di media. Sehingga memunculkan respon publik yang terlalu
berlebihan.
Langganan:
Postingan (Atom)