Kamis, 26 Maret 2015

refleksi

Sisi hidup mana yang tak bermanfaat, ciptaan tuhan mana yang tak bisa dijadikan renungan. Sudah jelas dan tertulis di kitabNya, seluruh ciptaan ada dan diciptakan bukan tanpa alasan, seluruh fenomena terjadi bukan tanpa sebab. Kata 'yatafakkarun' di kitabNya tertulis lebih dari sepuluh kali, dan Tuhan 'menulisnya' dengan embel2 anjuran bukan perintah, anjuran Tuhan adalah perintah dengan rahasia hikmah yang luar biasa. Berpikir tentang alam dan seisinya, berpikir tentang kejadian dan sebab akibat disampingnya, berpikir tentang alasan diciptakannya manusia. Proses panjang berpikir yang bakal menuntun manusia menjadi manusia yang kaffah menurut konsep Tuhan dan RasulNya. Semua tertulis dan akan tersampaikan hingga anak cucu manusia, lantas akankah generasi manusia saat ini akan menjadi generasi dengan daya pikir kuat dan mendalam, ataukah menjadi generasi batu loncatan bagi penerus generasi selanjutnya? Ini tugas manusia saat ini, berproses menjadi manusia luar biasa dan akan dikenang sepanjang masa oleh anak cucu. Semoga ... #kabulkan  

santri

Pemberdayaan alumni, mengakar kuat di tingkat regional, wilayah hingga nasional. Pembentukan karakter ala filosofi pesantren, pembentukan mental santri. Santri berdiri diatas bumi pertiwi, bersarung berkopyah, berdandan ala santri dimanapun bumi dipijak. Berapa banyak santri yang bertahan bersarung di tengah kumpulan orang bercelana. Identitas santri, melekat hingga lubuk hati. Santri nusantara, pengemis ilmu agama dan kearifan nusantara. Mencari jati diri di tengah hiruk pikuk globalisasi. Coba saja cari di google, apa maknanya atau wikipedia sekalipun apa definisi santri, coba saja cari dimanakah pesantren berdiri, ribuan mewarnai gugusan pulau bumi pertiwi, menyandingkan panji bendera pesantren dengan panji merah putih suci, karena santri bukan tipikal manusia yang lupa diri dan tak tau diri. Santri tahu, dari bumi mana nasi yang ia konsumsi, dari bumi mana pohon tumbuh berdiri. Santri harus tahu mana yang harus diperjuangkan, dan yang harus direlakan, bangsa ini besar mungkin saja santri ikut andil dalam proses pembangunannya. Santri tahu bumi mana yang ia pijak, pertiwi ini dihuni rakyat yang beragam, dan santri harus tahu bagaimana cara terbaik bertoleransi. Baiklah, harus ada nama yang dimunculkan untuk memperkuat argumen ini, sebut saja KH Wahid Hasyim, anggota BPUPKI, salah seorang pencetus piagram jakarta yang selanjutnya diikrarkan menjadi pembukaan uud 45, KH. Abdurrahman Wahid, presiden ke 4, bapak demokrasi, yang memperoleh berbagi gelar internasional, mungkin gus dur adalah salah satu tokoh yang paling memanusiakan manusia. KH. Din Syamsuddin, tokoh agama yang saat ini menjabat ketua MUI. Berbagai tokoh diatas, ketika seseorang menanyainya 'apakah anda santri?' maka mereka akan segera berkata 'saya santri, dan masih santri'. Masih ada sosok-sosok lain yang pernah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Santri-santri, jangan cepat berbangga diri sebelum memberi sumbangsih ke negeri ini. Menganalisa, mencari solusi, memperbaiki, menemukan racikan jitu untuk negeri. Santri-santri, kalau orang menyincingkan baju untuk bergelut, maka santri perlu menyincing sarung, mengangkat sedikit kopyahnya, dan siap berkarya untuk bangsa. 

sepertiga

Tuhan bangunkan aku di sepertiga akhir malamMu,
Sodorkan aku semangat untuk menggerakkan tubuh ini,
Beri kesempatan menyentuh air suci dan ku basuhkan ke mukaku.
Sajikan aku wangi bumiMu hingga ku enggan beranjak dari sujudku,
malamMu adalah ke-luar biasa-an yang luar biasa, dimana mata-mata terpejam dan aku membuka mata.
Semakin malam semakin pagi, kau masih menjanjikan surya terbit dari timur.

Hari ini ... Ku buka mata 

Selasa, 17 Maret 2015

sombong

Kesombongan seringkali menyisakan sebuah dampak kerusakan atau bahkan kehilangan, sombong akan apa yang sudah di tangan, atau bahkan ada juga yang menyombongkan sesuatu yang belum dimiliki. Sombong itu bukan sifat manusia seharusnya, itu layak disandingkan hanya kepada Tuhan, tragedi diturunkannya adam ke bumi adalah sebab congkaknya iblis, dia yang merasa lebih mulia dibanding manusia merasa lebih patut jadi penghuni surga, lantas iblis sombong dan mencoba memanfaatkan kelalaian adam. Tragedi sombong dan lalai, awal mula semua terjadi, hingga saat ini banyak manusia yang memiliki sifat Tuhan itu, sombong dan congkak, lantas apa balasannya, kemana lagi si manusia diturunkan, apa yang diturunkan, ada banyak pilihan Tuhan menghukum manusia, bisa saja harga diri manusia diturunkan, harta benda dibumi hanguskan, atau bahkan lebih buruk, dibinasakan turun ke bumi lebih dalam. Manusia memiliki kepala yang lunak dan elastis, cepat besar ketika disanjung atau mendapat keuntungan tertentu, dan cepat kempes ketika sial dan cobaan datang bertubi. Maka, sewajarnya adalah memiliki sifat rehdah hati, turun ke bumi, membumi karena bakal kembali ke bumi. Kepala dan tangan menengadah ketika nama Tuhan yang ia sebut. Sombong dan lalai harus dilawan dengan tawadlu' dan waspada, bahwa tak setiap waktu manusia ingat tuhan dan asal muasalnya ia dicipta.

Cateeeeeet.


Cateeeeeet.
Beberapa hari lalu salah satu temanku mengirim broadcast di bbm, disitu tercantum bahwa ada seminar dengan narasumber ulil abshar dan idrus madani, dua tokoh yang pernah berselisih di satu forum. Mereka berdua merupakan tokoh yang memiliki pendapat yang berseberangan, namun mereka berasal dari satu paham yakni aswaja an-nahdliyah. Tapi terlepas dari itu, mereka memiliki pandangan yang mencolok, satu sisi ulil yang notabene adalah tokoh pendiri JIL, yang merupakan kelompok yang menyuarakan dan menyerukan konsep toleransi, moderat, dan liberal dalam beragama, dan di sisi satunya idrus madani seringkali berseberangan dengan konsep yang ditawarkan oleh ulil.
Berangkat ke kampus, dengan mengenakan kostum agak 'necis', hem lengan panjang, sweater, plus sepatu sneaker putih hasil pinjaman. Terlihat sedikit lebih muda dari usia dan semesterku kini. Bertemu beberapa teman disana, bincang pagi yang asik menurutku, mereka aktivis kampus, penggiat buku 'berat', dan otomatis konten bincang pagi yang berat pula tapi asik.
Beberapa saat kemudian, ku masuk ke gedung rektorat tempat dilaksanakannya seminar, ini pertama kalinya ku menginjak kaki disini. Sembari menunggu ulil abshar tiba, ku duduk di lobi rektorat. Lantas ulil abshar tiba dengan kawalan oleh 'satpam' mahasiswa, teman-teman menyalami beliau, namun tidak diriku, ku cukup melihat dari dekat, dia yang 'status'nya 'serumpun' denganku buatku kagum. Orang yang selama ini ku kagumi dengan pola pemikirannya, akhirnya bertatap muka. Produk pemikiran yang dianggap aneh oleh beberapa kalangan, bahkan pernah divonis 'halal' darahnya oleh sekelompok fundamental. Tapi aku kagum dan penggiat tulisannya di situs JIL. Dia terlihat santai dengan batik lengan pendek dan menenteng tablet. Ku mengikuti dari belakang.
Ulil, menurutku berdiri tegap dan tegak diantara gempuran dan gesekan. Bertahan pada pola pemikiran yang menurutnya adalah solusi efektif di tengah keberagaman pemahaman mengenai agama, menyodorkan konsep berbangsa yang santun ketika bangsa ini dihadapkan aksi sikut menyikut antar golongan. Ulil tak berniat menyikut, melainkan 'mengelus' namun dianggap oleh beberapa golongan sebagai 'sikutan' atau bahkan 'tamparan'. Dan tak dihindarkan memang, dia 'disikut' dan 'disikat', dimintai pertanggunggjawaban dan bahkan disuruh bertaubat. Ulil menawarkan kebhinneka-an, mengajak pada toleransi.

Bhinneka Tunggal Ika, cita-cita leluhur bangsa, semoga dikembalikan ke posisi semula, posisi dimana ia dijunjung dan dipegang erat sebagai satu semboyan, diaplikasikan di kehidupan bangsa dimanapun tempatnya, mulai cangkruk warung kopi hingga 'cangkruk' di kantor para dewan yang 'terhormat'.

kritik sedikit

Ada borok menganga di dalam sistem sosial kita, borok yang mulai kering kini tergaruk oleh tangan-tangan jahil perusak tatanan sosial masyarakat. Berlakunya sebuah sistem ala 'e' entah itu berlaku di e-ktp, e-government hingga ke e-ntahlah. Pola kepemimpinan dalam sebuah sistem demokrasi saat ini yang didukung pula dengan kecanggihan IT harus berlaku sangat hati-hati. Smartphone kini bukan sesuatu yang wah di mata, berapa pasang tangan yang tiap hari geser atas bawah, kanan kiri, baca info sana sini. Masyarakat memegang alat pantau yang luar biasa, mengendalikan respon publik secara luas hanya dengan menyantumkan '#'. Tatanan sosial di tengah maraknya gempuran produk impor kini semakin terkikis, ini akan makin parah ketika tak ada tindak lanjut bahwa masyarakat harus mampu mengontrol bukan dikontrol, mendayagunakan bukan menyalahgunakan. Mempersiapkan masyarakat yang siap dihadapkan dengan realita transnasional, perdagangan bebas, serta komunikasi tanpa batas adalah pekerjaan rumah yang segera dilakukan, mengingat status dan peran bangsa ini di mata internasional semakin diperhitungkan. Tak ada kejadian yang tanpa teori, tak ada teori yang benar mutlak, tetap ada pengecualian-pengecualian. Bangsa ini perlu memperbaiki 'interior' mengokohkan pondasi, mempercantik 'eksterior' dan kita siap dikunjungi oleh bangsa manapun. 

Sabtu, 14 Maret 2015

Script-Sweat



Perpustakaan ...
Tempat yang paling jarang aku kunjungi, harusnya tempat itu-lah yang ku buat mencari informasi untuk bekal bereksplorasi. Perpustakaan kampusku, menurutku yang terbaik, gedung berlantai tiga, dengan prosedur 'gate' yang bagus, jangan coba2 masuk perpus kalau tak memegang ktm atau kartu sakti. ketika bunyi 'tiit' tak terdengar, tanda tak boleh masuk. Perpustaan kampusku, ribuan koleksi buku, media katalog digital yang sangat membantu. Suatu saat ketika ku memasuki ruang khusus skripsi, ku bertemu dengan salah seorang teman, Ku berbincang ringan dengannya. Saking butuhnya aku mencari sumber buat tambahan skripsiku, ku punya niat lucu waktu itu. Ku bilang ke temenku ' aku tahu cara efektif membawa tumpukan skripsi tanpa harus ketahuan petugas', lantas dia bertanya 'apa bang?'. Ku jawab dengan detail ' coba kau lihat di atas kepalamu, ada sensor api, ku bisa saja menyalakan alarm kebakaran tanpa memencet tombol emergency, ku cukup membawa korek dan menyalakan api di dekat sensor itu'. 'lantas bang?' tanya dia lugu. ' alarm akan menyala, dan pengunjung akan lari tunggang langgang'. ' dan saat itu ku ambil tumpukan skripsi sambil ikut lari-lari, hehehe' jawabku sambil senyum kecut.
'skripsi ini menyiksaku' gumamku sambil menarik napas panjang.
'tak pernah terbayang akan berakhir selama ini, bahkan saat maba pun tak pernah terlintas di otakku kalau kuliahku bakal serumit ini'
Ku bolak balik halaman skripsi yang ku pinjam, dan aku tak menemukan yang ku cari. Entahlah ...
'skripsi, sekrispi, skriptis, striptis, skripsweet, skripsweat, sekrik-krik'

bermain logika



Logika kadangkala bersebarangan dengan hati, aneh memang ketika seseorang dengan tingkat intelektual tinggi namun tidak menunjukkan kematangan dalam ber’main’ hati. hati berdiri dengan membisikkan sesuatu, lantas logika berperan sebagai penentu keputusan dengan segala prosesnya, disini proses dipertanyakan apakah logika mampu berperan lebih dalam menentukan keputusan paling tepat dalam setiap kondisi yang dihadapi oleh manusia. Respon cepat yang ditunjukkan oleh hati tanpa mendayagunakan logika bisa saja berakibat fatal namun itulah manusia, karakter bawahan yang sulit dikontrol.bahkan aku menulis inipun tanpa menggunakan hati bersih dan logika cerdas, maaf ...

Senin, 09 Maret 2015

kebiasaan



Ada yang terjerat oleh kebiasaan
Ada yang tertekan oleh kebiasaan
Ada yang merindukan kebiasaan
Ada yang memaksa terbiasa
Ada yang merasa tak terbiasa
Yang terbaik adalah kebiasaan yang luar biasa

Aktivitas manusia berlangsung lama, dalam periode yang lama dia beraktivitas yang sama dengan orang yang sama di tempat yang sama. Apakah itu termasuk 'jeratan'?, kukira tidak namun dengan catatan, bahwa kebiasaan yang sama secara konsisten memproduksi hal yang sama dengan kualitas dan kuantitas yang tak sama. Seorang pelukis akan bertahan dengan kebiasaan melukis, seorang pemahat bertahan dengan kebiasaan memahat, dan dengan tempo yang lama pula.Kalaulah jika mereka berdua berhenti dari kebiasaan itu, maka mereka merasa tak terbiasa. Produktivitas mereka akan dipertanyakan. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah aku dan kau sudah memiliki kebiasaan yang produktif??

Bumi Tuhan



Ketika kau singgah ke belahan bumi yang lain, potensi untuk menggapai sukses dan mangeruk rizki Tuhan selalu terbuka lebar. Berbekal kejelian memilih celah untuk potensi diri yang lebih pantas di singgahan lain. Mahluk tuhan yang belum pernah kau tatap sudah di'setting' tuhan' sebagai lahan potensimu. Selagi ada waktu, asah apa yang kau anggap bisa namun tetaplah mencari tahu pengetahuan lain sebagai tiang-tiang penyanggah potensimu.
Bumi Tuhan tak akan sepenuhnya jadi bumi manusia sepenuhnya, keyakinan berbekal potensi dan pengetahuan akan jadi kunci untuk bumi yang baru kau singgah. Bumi tuhan memang bukan sepenuhnya bumi manusia, namun Tuhan begitu kaya, Dia menyilahkan manusiaNya 'menggarap' bumiNya dengan segala potensinya dengan izinNya. Kalaulah manusia tak mampu Mengeruk rizkinya, jajaki bumi tuhan yang lain.
Tuhan benar-benar murka pada manusiaNya yang enggan menggerakkan tangannya dengan potensinya, untunglah Tuhan maha pemaaf, bisakah kau bayangkan jika Tuhan tak memiliki sifat, jadi apa manusia-manusia fasiq di bumi ini. Bagi Tuhan, kefasikan adalah kelalaian yang luar biasa, Tuhan 'merawat' manusia dengan sempurna namun manusia membalas dengan 'kelupaan' yang cepat dan menjadi 'biasa lupa'. Tuhan suka manusia yang tak lalai, Tuhan suka manusia yang menggarap bumiNya, Tuhan lebih suka pada manusia penggarap bumi yang tak lalai.

budaya kita



Banyak yang melestarikan budaya dengan cara yang salah, berdalih menanamkan budaya untuk generasi malah merusak budaya yang ada. Lantas bagaimana solusinya,
Apa yang sudah ada merupakan hasil kreatifitas masyarakat pada zaman dulu, generasi selanjutnya bertugas mempertahankan dan menanamkan pada anak cucu sebagai jiwa bangsa, harga diri dan wajah bangsa di mata dunia.
Manakah yang lebih baik, budaya tergeser oleh budaya lain ataukah mengemas budaya dengan hal kurang pantas namun tetap tampak di permukaan.
Masyarakat memiliki kecenderungan latah dan mudah terprovokasi oleh kabar burung, perbincangan akan mengalir deras ketika sebuah isu muncul di media. Sehingga memunculkan respon publik yang terlalu berlebihan.