Selasa, 08 Maret 2016

lha iyo



ada yang benar-benar tak menemukan kebahagiaan di tengah cekikian, bahkan merasa kesepian di tengah keramaian, tidak bisa mengolah bagaimana menemukan bahagia dan merasa ramai. Tak bisa berujar disaat semua berekspresi. Apa ada yang salah, yang pasti iya,

Minggu, 06 Maret 2016

KERJAKAN SAJA



Bagaimana cara terbaik menyikapi pekerjaan yang tidak diinginkan, tapi diterima dengan keterpaksaan. Banyak yang melamar pekerjaan atas dasar kebutuhan mendadak, menerima sebuah profesi yang tidak menjadi kesenangan atau bakat. Kalau memang pekerjaan dilakukan hanya karena embel-embel gaji atau uang, maka ketika mendapatkan gaji yang tidak sepadan dengan pekerjaan yang dilakukan, akan ada sebuah kekecewaan dan itu mampu melemahkan mental tentunya. Walhasil, di bulan berikutnya etos kerja bukannya meningkat, malah penurunan yang terjadi. Apakah itu bisa disebut ‘tidak adil’ untuk sebuah gaji yang tak pantas? Lantas kepada siapa menuntut, toh memang sistem sudah berkata demikian.
Maka, bekal terbaik untuk setiap orang dalam melakukan pekerjaan adalah ‘pengabdian’ atau dedikasi. Pola berpikir yang meletakkan semangat ‘dedikasi’ di ruang paling dasar dalam diri manusia akan menuntun manusia untuk berlaku profesional dan tanggung jawab. Bahwa menjadi sosok yang berguna bagi orang lain adalah pencapaian yang sangat mulia, apapun yang dilakukan dan itu bermanfaat bagi orang lain adalah jauh lebih baik daripada berlaku merugikan. Maka pengabdian akan melahirkan pola ‘qonaah’ atau ‘neriman’. Qonaah akan apa yang didapatkan bukan atas dasar imbalan yang setimpal dengan apa yang sudah dilakukan, melainkan adalah sebuah apresiasi atas apa yang sudah dikerjakan. Berapapun itu, akan diterima dengan lapang dada dan tanpa ada keluhan.
Di luar sana, banyak sekali yang rela berbagi, jangankan tanpa diberi, tanpa diketahui-pun ia rela. Sukarelawan-sukarelawan, donatur-donatur, pekerja sosial yang tanpa mengeleuh membantu. Lantas apa semangat mereka melaksanakannya, salah satunya adalah pengabdian untuk orang lain.

Kamis, 25 Februari 2016

Melepas Kacamata Kuda Santri

Menguji ketahanan santri di era yang sangat berbeda dengan zaman dimana para ulama terdahulu ketika berjuang untuk memperoleh ilmu, masih ingatkah para santri ketika ibnu hajar butuh waktu enam tahun hingga dia sadar bahwa ilmu didapat bahkan lebih dari sebuah kesabaran menjalani masa belajar dalam tempo enam tahun, dia sadar dengan pesan tuhan yang diwujudkan dalam peristiwa terkikisnya batu oleh hanya tetesan air. Para santri mungkin masih ingat ketika para pencari ilmu terdahulu butuh tirakat yang cukup berat dengan harapan memperoleh ilmu yang manfaat. Kalau toh mau membandingkan dengan proses belajar santri saat ini dengan santri dahulu mungkin kiranya cukup jauh perbandingan, santri yang saat ini dihinggapi hingar bingar fasilitas belajar yang cukup wah harusnya memperoleh ilmu yang lebih banyak.
Ada suatu kisah dimana seorang pencari ilmu bertemu dengan seorang alim, lantas kemudian si pencari ilmu meminta alim tersebut untuk menjadi gurunya, guru tersebut meng-iya-kan permintaannya namun dengan syarat bahwa si pencari ilmu tersebut harus berjamaah subuh tepat waktu dengan si alim dan berdiri tepat di belakang si alim. Namun suatu saat dalam perjalanan menuju masjid si pencari ilmu di hadang kawanan srigala, satu per satu srigala dia coba singkirkan, namun sayangnya kejadian tersebut menggagalkan dia untuk sholat berjamaah tepat di belakang si alim, lantas si alim menolak untuk mengajari si pencari ilmu apapun alasannya.
Sebuah kisah penggugah semangat santri untuk memegang teguh niat dan prinsip. Santri dahulu, mereka-lah yang menunggu kedatangan kyai atau guru datang, namun saat ini malah kyai atau guru yang menunggu kedatangan santri. Tingkat ta’dlim santri dahulu saat ini cukup jauh perbedaannya, ada penurunan ta’dlim dan akhlaq santri, ada penurunan tingkat perjuangan santri. Pembenahan harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan islam. Santri lebih terforsir oleh sesuatu yang sifatnya furu’ daripada ushul. Dominasi modernitas yang kurang ditanggapi secara bijak berdampak pada menurunnya pola pikir dan pola belajar  santri. Karena Allah lebih suka hamba yang berjuang dalam memenuhi hajat hambaNya, Allah akan memudahkan hambaNya setelah terdapat sebuah perjuangan dan kesungguhan hamba secara istiqomah.
Suatu kebutuhan bagi para pencari ilmu untuk membaca biografi tokoh-tokoh agama dan bangsa, bagaimana prestasi dan karyanya, kegiatan kesehariannya, namun yang tak kalah penting adalah proses perjuangan menuju kesuksesan yang telah mereka peroleh. Apa filosofi dan prinsip hidup yang mereka miliki dan dipegang secara istiqomah dalam proses mencapai kesuksesan. Mengambil hikmah dari sejarah-sejarah kebangkitan para tokoh agama adalah proses penting sebagai bekal santri dalam meniti bahtera ilmu yang tak pernah terkuras. Santri harusnya memegang buku biografi Gus Mi’, Gus Dur, Buya Hamka, atau bahkan soekarno sekalipun, membaca proses perjuangan mereka, menelaah secara perinci motivasi mereka hingga akhirnya menancap di benak santri sebuah semangat meniti ilmu.
Santri perlu mencari hujjah atas kebenaran yang ia yakini, kalaulah dia membenarkan islam sebagai agama maka yang dilakukan adalah mencari hujjah atas keyakinannya. Membaca Al-Quran sekaligus memahami maknanya, membaca atau bahkan menghafal hadits sekaligus mempelajarinya, kemudian diikuti dengan kitab-kitab lain yang tak kalah penting. Selanjutnya jalan menuju proses tersebut adalah santri mematangkan kemampuan ilmu alat dan bahasa arab. Maka wajib kiranya bagi mereka memiliki pondasi berbekal quran hadits dan kutubut turats sebagai jawaban atas kebenaran yang ia yakini.
Santri sangat lekat dengan istilah Barokah atau Berkah. Barokah yang mereka pahami adalah keyakinan pada sebuah keberuntungan yang akan tiba pada mereka. Satu contoh misalkan seorang santri memakan sisa makanan yang dihidangkan kepada salah seorang alim atau kyai, maka santri memakannya dengan anggapan akan memperoleh kemanfaatan dari seorang yang alim, entah dilancarkan proses belajarnya atau perkara lain. Secara harfiah Barokah dimaknai sebagai ‘ziyadatul khoir’ atau bertambahnya kebaikan. Setiap sesuatu akan bernilai barokah ketika semakin berdampak baik pada manusia, apapun itu bentuknya baik berupa benda, amal ibadah, atau bahkan keyakinan akan sesuatu.
Maka yang diperlukan oleh santri adalah menguji keberkahan amal ibadah yang ia lakukan selama ini atau ibadah yang sudah ia ketahuai dengan cara melakukannya secara istiqomah, ini dilakukan tidak dengan hitungan hari namun dengan hitungan bulan atau bahkan tahun. Apakah ia bertambah baik setelah mengamalkannya ataukah sebaliknya ? kalaulah iya, maka aneh kiranya jika dia tidak meningkatkan pola ibadahnya demi kebaikan yang lebih banyak. Kalulah jawabannya tidak, maka perlu dianalisa, apakah dilakukan secara kontinyu atau tidak, ataukah masih diwarnai perkara buruk lain dalam kesehariannya. Sebuah catatan penting bagi santri mengingat aktivitas pesantren sangatlah lekat dengan pola ibadah, wirid dan ngaji yang istiqomah.

Selasa, 23 Februari 2016

PENYADAPAN



Ada satu kebiasaan yang sering saya lakukan ketika mengikuti pengajian, perbincangan dengan teman atau mungkin berbincang sendiri, yaitu merekam lewat handphone, bagi saya itu adalah momen yang tak datang dua kali,maka wajar jika saya merekamnya dengan harapan hasilnya akan jadi referensi atau sumber mutholaah yang bermanfaat bagi saya di kemudian hari. Tiap hari selasa malam rabu, ada majlis pengajian yang diasuh oleh Ustadz Nashrullah, saya selalu mengikutinya, bahkan saya akan lemas ketika tiba-tiba ada pemberitahuan kalau pengajian diliburkan karena saking antusiasnya saya mengikuti forum penuh mauidzoh dan kalam hikmah dari beliau.
Suatu saat, saya berinisiatif untuk merekam pengajian tersebut, saya duduk tepat di depan beliau, dengan sopan saya mengeluarkan HP saya dan meletakkan tepat di depan saya, itu berlangsung dalam beberapa pertemuan. Akhirnya saya merenung, berpikir apakah aktivitas merekam saya menjadi sebuah tindakan yang kurang sopan ketika beliau tidak mengetahuinya ? hingga saya memutuskan untuk meminta izin beliau melalui SMS, dan alhamdulillah beliau memberi izin kepada saya untuk merekamnya. Saya sangat senang karena memang menurut saya nasihat-nasihat beliau sangat bermanfaat bagi saya.
Kalau lagi nongkrong dengan sahabat-sahabat, ketika ada yang membuka sebuah pembahasan yang bermanfaat, seketika saya setel HP ke mode rekaman, saya dekatkan ke si pembicara dan saya balik HP agar tak terlihat bahwa HP itu sedang melakukan “penyadapan”. Saya selalu memancing dengan pertanyaan-pertanyaan agar  diskusi tetap jalan. Bahkan ketika ada pemberitahuan masuk ke HP saya, bakal saya acuhkan.
Mulai saat itu saya kegandrungan merekam suara-suara dari orang-orang yang menuturkan sesuatu yang baik, entah itu dari Kiai, Guru ataupun teman. File-file rekaman saya himpun di folder khusus dan saya convert ulang agar kualitas suara menjadi lebih bagus dan jelas. Ini adalah usaha saya untuk menghimpun ilmu-ilmu dari sosok-sosok yang mau berbagi ilmu dan pengalaman. Adalah daya ingat saya yang lemah dan daya rekam otak saya tidak sebagus orang-orang jenius yang mampu menangkan dan menyompan apa yang ia dengar dan lihat, dan inilah usaha saya untuk melestarikan kebaikan-kebaikan orang lain melalui rekaman saya, dan saya manfaatkan sebagi konsumsi pribadi.

Kamis, 18 Februari 2016

MENGAKU NABI, GUS JAR-(E)-I



Lagi-lagi, fenomena unik kembali muncul di telinga masyarakat, mereka kini digegerkan dengan munculnya seseorang yang mengaku sebagai Nabi Isa, sang pelengkap agama islam yang dalam hadits nabi pernah dijelaskan bahwa Isa akan muncul dan diturunkan ke bumi pada akhir zaman sebelum kiamat tiba. Nama aslinya adalah Gus Jari, asal kota santri Jombang, seseorang yang mengaku sebagai Nabi Isa lantaran pernah menerima ilham atau perintah dari bisikan ghaib, dia berkisah bahwa beberapa waktu silam bahwa ia mendapat bisikan yang berbunyi dua kalimat syahadat dengan penambahan kata “wa Isa Habibullah”.
Dari sekian banyak warga Indonesia yang pernah mengaku Nabi, Gus jari menjadi fenomena terupdate, nabi terbaru yang muncul di permukaan. Unik memang, orang-orang yang mengaku sebagai utusan Tuhan atas dasar bisikan Ghaib di zaman dimana beberapa masyarakat sudah mencapai kemapanan pemahaman akan islam. Entah sudah berapa orang yang mengaku Nabi, kalau terus menerus bermunculan orang-orang serupa harusnya MUI bisa saja menerbitkan SK Kenabian, hehe.
Orang-orang yang tersilaukan akan kepandaian retorika nabi-nabi palsu hanyalah orang-orang dengan minim pengetahuan islam, atau mungkin orang-orang pinggiran yang mengalami dehidrasi akan siraman rohani. Dari sekian banyak nabi yang sudah bermunculan, kalau ditelisik memang mereka belum berhasil memikat mayoritas muslim di Indonesia, kalau-pun dia berani mempublikasikan diri, bakal muncul ribuan hujatan yang siap ia terima. Cara mereka membikin sensasi sungguh menggelitik, mengaku Nabi atau bahkan Malaikat. Lucunya, si Gus Jari ini malah menantang untuk dihadirkan dalam sebuah forum diskusi dengan beberapa Kiai di Jawatimur, istilahnya dalam jawa “ulo marani gepuk”, kok sebegitu beraninya, lha gelar “gus” yang ia sandang saja masih menimbulkan keraguan apa memang ia benar “gus” adanya atau hanya “gus” abal-abal.
                Kota Jombang yang sudah begitu masyhur dikenal sebagai kota santri, kota tempat kelahiran tokoh-tokoh islam nasional, malah kota ini ternoda dengan warganya sendiri yang mengaku Nabi, agaknya bahwa Kiai-Kiai asal Jombang tidak perlu repot-repot turun tangan menghadapi si “Jari” cukup santrinya saja yang diturunkan. Gus Jari entah mulai risau atau bisa saja malah bangga bahwa nabi baru ini mulai dikenal publik setelah sepuluh tahun lebih, kini ia sudah numpang tenar lewat media elektronik. Nabi Jari alias Isa, atau lebih tepatnya, ia adalah ISA “jarene dewe” ealah dasar Gus Jare.

Selasa, 16 Februari 2016

Sugesti dari Sebuah Keyakinan

Sebuah amalan yang baik harus diniati dengan niat yang baik pula dan disertai dengan doa dan harapan bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan yang baik pula. Doa adalah layaknya sebuah sugesti seorang hamba atas apa yang sudah dilakukan, doa bermakna sebuah dzon atau perasangka yang baik bahwa apa yang diharapkan akan berwujud nyata tanpa harus berpikir kapan itu akan tiba. Membantu adalah perbuatan yang baik, ketika seseorang melakukannya, ia terbesit sebuah doa dan harapan, maka harus pula meyakini bahwa amalan tersebut akan berbuah baik. Perasangka manusia atau dzon kepada Allah akan terkabulnya sebuah doa layaknya sebuah suntikan energi positif untuk terus berbuat baik, karena perbuatan hati yang diikuti dengan perbuatan nyata menghasilkan energi positif bagi manusia untuk terus berlaku konsisten dan kontinyu bahwa manusia harus tetap berjalan pada koridor kebaikan yang sempurna.
Ketika kelak di hari dimana semua amal dipertanggungjawabkan, amalan yang pertama yang dimintai adalah bagaimana sholat itu dikerjakan, ini menunjukkan betapa pentingnya amalan ini bagi manusia. Sholat akan menjadi sebuah barometer seorang hamba atas posisinya sebagai makhluq yang dicipta untuk menyembah dan menghamba. Pola sholat adalah kunci kondisi kehidupan manusia, seberapa disiplin, tepat waktu, kualitas dan kekhusyuan sholat adalah hal-hal yang bisa menjadi timbal balik kehidupan manusia. Maka timbul pertanyaan, wajarkah jika manusia meminta kepada Allah untuk menyegerakan memberi solusi atas masalah yang ia hadapi ketika ia tidak menyegerakan sholat-nya ketika waktunya telah tiba ? wajarkah jika manusia meminta kepada Allah sebuah kehidupan yang layak jika ia tidak menghadirkan sholat yang layak kepada Allah?.
Allah menilai manusia dari bagaiamana ia melakukan kewajibannya kepada Allah, sebuah ibadah adalah kewajiban dan keharusan yang dijalani tanpa harus bertanya apa dan bagaimana. Pendekatan manusia kepada Allah harus diwujudkan dengan amalan yang benar-benar baik dengan cara sungguh-sungguh karena Allah akan melihat pola bagaimana seorang manusia melakukan kewajibannya dalam ibadah.  Akan ada perbedaan dimana sebuah kewajiban dipandang manusia sebagai hanya kewajiban ataukan ada kebutuhan dibaliknya, maka ada dalam praktiknya nanti akan ada manusia dimana melakukan sholat hanya karena menggugurkan kewajiban dan manusia yang melakukan sholat atas dasar butuh akan sholat cerminan dari rasa tawaddlu’ seorang hamba akan Tuhannya.

Minggu, 14 Februari 2016

Pendidikan Maarif NU

satu satu-nya cara untuk meningkatkan kualitas hidup manusia adalah dengan pendidikan, ilmu pengetahuan akan menuntun kita menuju taraf kehidupan yang lebih baik, maka dari itu diperlukan sebuah kasadaran pada setiap orang tua bahwa putra-putranya harus dihantarkan kepada lembaga-lembaga pendidikan untuk mengenyam pendidikan. Mendalami ilmu agama adalah sebuah kewajiban baik setiap manusia, ilmu agama adalah sebagai pendamping setiap gerak gerik dan aktivitas kita. Kalau memang manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, maka dari mana kita mengetahui tata cara beribadah dengan baik dan benar ? maka kuncinya adalah dengan belajar ilmu agama, mulai dari tauhid, fiqih dan akhlaq dan lain-lain. Sehingga, ada sebuah keyakinan bahwa seseorang dengan ilmu agama yang baik akan timbul sebuah karakter dan perilkau yang baik pula, semakin bertambahnya seseorang dalam ilmu agama maka semakin baik pula akhlak dan karakternya. Para hadirin ... Pendidikan dasar sebagai landasan awal pembentukan karakter anak bangsa, memiliki tanggung jawab dan tugas untuk mendidik, mengajar dan menuntun siswa-siswa pada perilaku yang baik. Maka LP Maarif sebagai lembaga pendidikan di bawah naungan NU, menurut saya adalah lembaga yang memberikan asupan ilmu agama dan pengetahuan umum yang seimbang, sehingga disamping membentuk karakter siswa degan ilmu agama, lembaga ini juga membentuk sosok anak bangsa yang “kafi” atau sempurna. Ada istilah “intact human” atau manusia yang “kaffah” atau sempurna, dimana ilmu agama dan pengetahuan umum menjadi fokus siswa untuk dipelajari, dan LP Maarif sudah menjalankan konsep itu dalam membentuk siswa-siswa yang kaffah, “ber-hati mekkah, ber-otak jerman”.