Minggu, 19 April 2015

Ber'tasyadud' pada diri sendiri, ber'tasamuh' pada orang lain

Ber'tasyadud' pada diri sendiri, ber'tasamuh' pada orang lain
Tasyadud berasal dari kata 'syadda' atau 'syadiid' yang berarti sangat, tasyadud bermakna memperketat, atau berlaku disiplin, ber'tasyadud' pada pribadi masing-masing adalah upaya untuk membentuk jiwa disiplin dan jiwa berprinsip tegas. Menentukan kejawiban-kewajiban tertentu walau menurut orang lain itu bukan hal yang wajib dan mendasar, mempertegas pada jiwa untuk berpola hidup sebagaimana cita yang diinginkan. Ketika seseorang berdiri pada suatu keyakinan lantas kemudian berlaku sangat fanatik atas keyakinan itu, seringkali menciptakan suatu pemahaman bahwa orang yang berpegang pada keyakinan berbeda dengannya adalah salah. Dan ini sangat rentan pada tindakan atau respon 'ihtiqor' atau diskriminasi. Sehingga muncullah gerakan fundamental dan radikal.
Setiap orang berhak memilih pribadi mana dan bagaimana yang ia tuju, namun bukan berarti memiliki hak untuk mengarahkan orang lain untuk mengikutinya. Tugas ajakan atau tugas menyampaikan risalah adalah bersifat 'wajib' bukan hak. Islam sangat menghargai hak manusia, 'lakum dinukum wa liy ad-diin' menjelaskan bahwa hak beragama adalah milik individu-individu, kewajiban berdakwah ada di pundak muslim namun hasil akhir adalah kehendak Allah.

Tasamuh yang memiliki arti toleransi, jejak rekam sejarah islam dalam hal bertoleransi bisa diliat dan dikaji dari salah satu poin di piagam madinah, bahwa tiap orang memiliki hak hidup, hak berkomunikasi, hak mencari nafkah yang sama. Ini berlaku tidak hanya bagi muslim melainkan non muslim yang hidup berdampingan dengan muslim. Cara pandang yang menjadi salah satu acuan di tengah perbedaan yang beragam dan cukup membingungkan. Menanamkan jiwa bertoleransi bagi sesama, menghargai perbedaan sebagai bagian dari rahmat Tuhan. Tasamuh itu mengandung sisi 'husnud dzon' yang sangat kental, dimana ketika memandang sebuah kesalahan atau perbedaan, maka berperasangka bahwa itu adalah sebuah kekhilafan atau juga proses menuju kebenaran. Ber-husnud dzon itu layaknya menghargai sunnatullah yang tak satupun manusia dapat menyingkapnya. 

2 komentar: