Sebuah amalan yang baik harus diniati dengan niat yang baik pula dan disertai dengan doa dan harapan bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan yang baik pula. Doa adalah layaknya sebuah sugesti seorang hamba atas apa yang sudah dilakukan, doa bermakna sebuah dzon atau perasangka yang baik bahwa apa yang diharapkan akan berwujud nyata tanpa harus berpikir kapan itu akan tiba. Membantu adalah perbuatan yang baik, ketika seseorang melakukannya, ia terbesit sebuah doa dan harapan, maka harus pula meyakini bahwa amalan tersebut akan berbuah baik. Perasangka manusia atau dzon kepada Allah akan terkabulnya sebuah doa layaknya sebuah suntikan energi positif untuk terus berbuat baik, karena perbuatan hati yang diikuti dengan perbuatan nyata menghasilkan energi positif bagi manusia untuk terus berlaku konsisten dan kontinyu bahwa manusia harus tetap berjalan pada koridor kebaikan yang sempurna.
Ketika kelak di hari dimana semua amal dipertanggungjawabkan, amalan yang pertama yang dimintai adalah bagaimana sholat itu dikerjakan, ini menunjukkan betapa pentingnya amalan ini bagi manusia. Sholat akan menjadi sebuah barometer seorang hamba atas posisinya sebagai makhluq yang dicipta untuk menyembah dan menghamba. Pola sholat adalah kunci kondisi kehidupan manusia, seberapa disiplin, tepat waktu, kualitas dan kekhusyuan sholat adalah hal-hal yang bisa menjadi timbal balik kehidupan manusia. Maka timbul pertanyaan, wajarkah jika manusia meminta kepada Allah untuk menyegerakan memberi solusi atas masalah yang ia hadapi ketika ia tidak menyegerakan sholat-nya ketika waktunya telah tiba ? wajarkah jika manusia meminta kepada Allah sebuah kehidupan yang layak jika ia tidak menghadirkan sholat yang layak kepada Allah?.
Allah menilai manusia dari bagaiamana ia melakukan kewajibannya kepada Allah, sebuah ibadah adalah kewajiban dan keharusan yang dijalani tanpa harus bertanya apa dan bagaimana. Pendekatan manusia kepada Allah harus diwujudkan dengan amalan yang benar-benar baik dengan cara sungguh-sungguh karena Allah akan melihat pola bagaimana seorang manusia melakukan kewajibannya dalam ibadah. Akan ada perbedaan dimana sebuah kewajiban dipandang manusia sebagai hanya kewajiban ataukan ada kebutuhan dibaliknya, maka ada dalam praktiknya nanti akan ada manusia dimana melakukan sholat hanya karena menggugurkan kewajiban dan manusia yang melakukan sholat atas dasar butuh akan sholat cerminan dari rasa tawaddlu’ seorang hamba akan Tuhannya.
Ketika kelak di hari dimana semua amal dipertanggungjawabkan, amalan yang pertama yang dimintai adalah bagaimana sholat itu dikerjakan, ini menunjukkan betapa pentingnya amalan ini bagi manusia. Sholat akan menjadi sebuah barometer seorang hamba atas posisinya sebagai makhluq yang dicipta untuk menyembah dan menghamba. Pola sholat adalah kunci kondisi kehidupan manusia, seberapa disiplin, tepat waktu, kualitas dan kekhusyuan sholat adalah hal-hal yang bisa menjadi timbal balik kehidupan manusia. Maka timbul pertanyaan, wajarkah jika manusia meminta kepada Allah untuk menyegerakan memberi solusi atas masalah yang ia hadapi ketika ia tidak menyegerakan sholat-nya ketika waktunya telah tiba ? wajarkah jika manusia meminta kepada Allah sebuah kehidupan yang layak jika ia tidak menghadirkan sholat yang layak kepada Allah?.
Allah menilai manusia dari bagaiamana ia melakukan kewajibannya kepada Allah, sebuah ibadah adalah kewajiban dan keharusan yang dijalani tanpa harus bertanya apa dan bagaimana. Pendekatan manusia kepada Allah harus diwujudkan dengan amalan yang benar-benar baik dengan cara sungguh-sungguh karena Allah akan melihat pola bagaimana seorang manusia melakukan kewajibannya dalam ibadah. Akan ada perbedaan dimana sebuah kewajiban dipandang manusia sebagai hanya kewajiban ataukan ada kebutuhan dibaliknya, maka ada dalam praktiknya nanti akan ada manusia dimana melakukan sholat hanya karena menggugurkan kewajiban dan manusia yang melakukan sholat atas dasar butuh akan sholat cerminan dari rasa tawaddlu’ seorang hamba akan Tuhannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar