Kamis, 25 Februari 2016

Melepas Kacamata Kuda Santri

Menguji ketahanan santri di era yang sangat berbeda dengan zaman dimana para ulama terdahulu ketika berjuang untuk memperoleh ilmu, masih ingatkah para santri ketika ibnu hajar butuh waktu enam tahun hingga dia sadar bahwa ilmu didapat bahkan lebih dari sebuah kesabaran menjalani masa belajar dalam tempo enam tahun, dia sadar dengan pesan tuhan yang diwujudkan dalam peristiwa terkikisnya batu oleh hanya tetesan air. Para santri mungkin masih ingat ketika para pencari ilmu terdahulu butuh tirakat yang cukup berat dengan harapan memperoleh ilmu yang manfaat. Kalau toh mau membandingkan dengan proses belajar santri saat ini dengan santri dahulu mungkin kiranya cukup jauh perbandingan, santri yang saat ini dihinggapi hingar bingar fasilitas belajar yang cukup wah harusnya memperoleh ilmu yang lebih banyak.
Ada suatu kisah dimana seorang pencari ilmu bertemu dengan seorang alim, lantas kemudian si pencari ilmu meminta alim tersebut untuk menjadi gurunya, guru tersebut meng-iya-kan permintaannya namun dengan syarat bahwa si pencari ilmu tersebut harus berjamaah subuh tepat waktu dengan si alim dan berdiri tepat di belakang si alim. Namun suatu saat dalam perjalanan menuju masjid si pencari ilmu di hadang kawanan srigala, satu per satu srigala dia coba singkirkan, namun sayangnya kejadian tersebut menggagalkan dia untuk sholat berjamaah tepat di belakang si alim, lantas si alim menolak untuk mengajari si pencari ilmu apapun alasannya.
Sebuah kisah penggugah semangat santri untuk memegang teguh niat dan prinsip. Santri dahulu, mereka-lah yang menunggu kedatangan kyai atau guru datang, namun saat ini malah kyai atau guru yang menunggu kedatangan santri. Tingkat ta’dlim santri dahulu saat ini cukup jauh perbedaannya, ada penurunan ta’dlim dan akhlaq santri, ada penurunan tingkat perjuangan santri. Pembenahan harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan islam. Santri lebih terforsir oleh sesuatu yang sifatnya furu’ daripada ushul. Dominasi modernitas yang kurang ditanggapi secara bijak berdampak pada menurunnya pola pikir dan pola belajar  santri. Karena Allah lebih suka hamba yang berjuang dalam memenuhi hajat hambaNya, Allah akan memudahkan hambaNya setelah terdapat sebuah perjuangan dan kesungguhan hamba secara istiqomah.
Suatu kebutuhan bagi para pencari ilmu untuk membaca biografi tokoh-tokoh agama dan bangsa, bagaimana prestasi dan karyanya, kegiatan kesehariannya, namun yang tak kalah penting adalah proses perjuangan menuju kesuksesan yang telah mereka peroleh. Apa filosofi dan prinsip hidup yang mereka miliki dan dipegang secara istiqomah dalam proses mencapai kesuksesan. Mengambil hikmah dari sejarah-sejarah kebangkitan para tokoh agama adalah proses penting sebagai bekal santri dalam meniti bahtera ilmu yang tak pernah terkuras. Santri harusnya memegang buku biografi Gus Mi’, Gus Dur, Buya Hamka, atau bahkan soekarno sekalipun, membaca proses perjuangan mereka, menelaah secara perinci motivasi mereka hingga akhirnya menancap di benak santri sebuah semangat meniti ilmu.
Santri perlu mencari hujjah atas kebenaran yang ia yakini, kalaulah dia membenarkan islam sebagai agama maka yang dilakukan adalah mencari hujjah atas keyakinannya. Membaca Al-Quran sekaligus memahami maknanya, membaca atau bahkan menghafal hadits sekaligus mempelajarinya, kemudian diikuti dengan kitab-kitab lain yang tak kalah penting. Selanjutnya jalan menuju proses tersebut adalah santri mematangkan kemampuan ilmu alat dan bahasa arab. Maka wajib kiranya bagi mereka memiliki pondasi berbekal quran hadits dan kutubut turats sebagai jawaban atas kebenaran yang ia yakini.
Santri sangat lekat dengan istilah Barokah atau Berkah. Barokah yang mereka pahami adalah keyakinan pada sebuah keberuntungan yang akan tiba pada mereka. Satu contoh misalkan seorang santri memakan sisa makanan yang dihidangkan kepada salah seorang alim atau kyai, maka santri memakannya dengan anggapan akan memperoleh kemanfaatan dari seorang yang alim, entah dilancarkan proses belajarnya atau perkara lain. Secara harfiah Barokah dimaknai sebagai ‘ziyadatul khoir’ atau bertambahnya kebaikan. Setiap sesuatu akan bernilai barokah ketika semakin berdampak baik pada manusia, apapun itu bentuknya baik berupa benda, amal ibadah, atau bahkan keyakinan akan sesuatu.
Maka yang diperlukan oleh santri adalah menguji keberkahan amal ibadah yang ia lakukan selama ini atau ibadah yang sudah ia ketahuai dengan cara melakukannya secara istiqomah, ini dilakukan tidak dengan hitungan hari namun dengan hitungan bulan atau bahkan tahun. Apakah ia bertambah baik setelah mengamalkannya ataukah sebaliknya ? kalaulah iya, maka aneh kiranya jika dia tidak meningkatkan pola ibadahnya demi kebaikan yang lebih banyak. Kalulah jawabannya tidak, maka perlu dianalisa, apakah dilakukan secara kontinyu atau tidak, ataukah masih diwarnai perkara buruk lain dalam kesehariannya. Sebuah catatan penting bagi santri mengingat aktivitas pesantren sangatlah lekat dengan pola ibadah, wirid dan ngaji yang istiqomah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar