Siswa Bandel, siapa yang salah ?
Bagaimanakah cara terbaik memberikan sebuah sanksi kepada
peserta didik yang melakukan pelanggaran lebih dari satu kali, masalah
kenakalan menjadi salah satu momok yang seringkali diperbincangan oleh para
pengajar ketika berada di ruang guru. Mereka berdiskusi ringan dan saling
bercerita tentang kondisi kelas ketika ia mengajar, dan salah satu topik
bahasan adalah kenakalan dari peserta didik.
Teori behavioristik adalah teori yang dianut dalam sistem
pendidikan di indonesia, ini dibuktikan dengan adanya reward and punishmen yang
diberlakukan. Siswa berprestasi akan diberi reward dan sebaliknya siswa dengan
pelanggaran akan dihukum menurut kebijakan lembaga. Proses tersebut perlu
dievaluasi lebih mendalam terkait perubahan yang terjadi baik dalam jangka pendek
atau jangka panjang. Misalkan seorang siswa melakukan pelanggaran yang cukup
berat, merokok di sekolah misalkan, siswa akan disanksi cukup berat atau bahkan
dikeluarkan dari sekolah. Maka pantauan selanjutnya adalah apakah kenakalan
serupa akan dilakukan di lain waktu dan lain tempat.
Pelanggaran terjadi bukannya tanpa sebab, ada latarbelakang
yang melandasi, maka sekolah memiliki guru BK, bimbingan konseling, memberi
nasihat, menentukan sanksi hingga memantau kembali kepada siswa pelanggar.
Proses selanjutnya adalah, ketika sekolah sudah memiliki daftar para pelanggar,
maka harus ada tindakan lanjut untuk memantau lebih intens. Tanggung jawab
pendidik tidak cukup dalam lingkup sekolah, karena belajar tidak hanya ketika
duduk di bangku kelas.Apakah cukup dengan hukuman dan bimbingan yang diterapkan
kepada pelanggar ? bukankah pelanggar masih berpeluang untuk beraksi lagi ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar