Minggu, 14 Februari 2016

Siswa Bandel, siapa yang salah ?



Siswa Bandel, siapa yang salah ?
Bagaimanakah cara terbaik memberikan sebuah sanksi kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran lebih dari satu kali, masalah kenakalan menjadi salah satu momok yang seringkali diperbincangan oleh para pengajar ketika berada di ruang guru. Mereka berdiskusi ringan dan saling bercerita tentang kondisi kelas ketika ia mengajar, dan salah satu topik bahasan adalah kenakalan dari peserta didik.
Teori behavioristik adalah teori yang dianut dalam sistem pendidikan di indonesia, ini dibuktikan dengan adanya reward and punishmen yang diberlakukan. Siswa berprestasi akan diberi reward dan sebaliknya siswa dengan pelanggaran akan dihukum menurut kebijakan lembaga. Proses tersebut perlu dievaluasi lebih mendalam terkait perubahan yang terjadi baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Misalkan seorang siswa melakukan pelanggaran yang cukup berat, merokok di sekolah misalkan, siswa akan disanksi cukup berat atau bahkan dikeluarkan dari sekolah. Maka pantauan selanjutnya adalah apakah kenakalan serupa akan dilakukan di lain waktu dan lain tempat.
Pelanggaran terjadi bukannya tanpa sebab, ada latarbelakang yang melandasi, maka sekolah memiliki guru BK, bimbingan konseling, memberi nasihat, menentukan sanksi hingga memantau kembali kepada siswa pelanggar. Proses selanjutnya adalah, ketika sekolah sudah memiliki daftar para pelanggar, maka harus ada tindakan lanjut untuk memantau lebih intens. Tanggung jawab pendidik tidak cukup dalam lingkup sekolah, karena belajar tidak hanya ketika duduk di bangku kelas.Apakah cukup dengan hukuman dan bimbingan yang diterapkan kepada pelanggar ? bukankah pelanggar masih berpeluang untuk beraksi lagi ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar