Selasa, 17 Maret 2015

Cateeeeeet.


Cateeeeeet.
Beberapa hari lalu salah satu temanku mengirim broadcast di bbm, disitu tercantum bahwa ada seminar dengan narasumber ulil abshar dan idrus madani, dua tokoh yang pernah berselisih di satu forum. Mereka berdua merupakan tokoh yang memiliki pendapat yang berseberangan, namun mereka berasal dari satu paham yakni aswaja an-nahdliyah. Tapi terlepas dari itu, mereka memiliki pandangan yang mencolok, satu sisi ulil yang notabene adalah tokoh pendiri JIL, yang merupakan kelompok yang menyuarakan dan menyerukan konsep toleransi, moderat, dan liberal dalam beragama, dan di sisi satunya idrus madani seringkali berseberangan dengan konsep yang ditawarkan oleh ulil.
Berangkat ke kampus, dengan mengenakan kostum agak 'necis', hem lengan panjang, sweater, plus sepatu sneaker putih hasil pinjaman. Terlihat sedikit lebih muda dari usia dan semesterku kini. Bertemu beberapa teman disana, bincang pagi yang asik menurutku, mereka aktivis kampus, penggiat buku 'berat', dan otomatis konten bincang pagi yang berat pula tapi asik.
Beberapa saat kemudian, ku masuk ke gedung rektorat tempat dilaksanakannya seminar, ini pertama kalinya ku menginjak kaki disini. Sembari menunggu ulil abshar tiba, ku duduk di lobi rektorat. Lantas ulil abshar tiba dengan kawalan oleh 'satpam' mahasiswa, teman-teman menyalami beliau, namun tidak diriku, ku cukup melihat dari dekat, dia yang 'status'nya 'serumpun' denganku buatku kagum. Orang yang selama ini ku kagumi dengan pola pemikirannya, akhirnya bertatap muka. Produk pemikiran yang dianggap aneh oleh beberapa kalangan, bahkan pernah divonis 'halal' darahnya oleh sekelompok fundamental. Tapi aku kagum dan penggiat tulisannya di situs JIL. Dia terlihat santai dengan batik lengan pendek dan menenteng tablet. Ku mengikuti dari belakang.
Ulil, menurutku berdiri tegap dan tegak diantara gempuran dan gesekan. Bertahan pada pola pemikiran yang menurutnya adalah solusi efektif di tengah keberagaman pemahaman mengenai agama, menyodorkan konsep berbangsa yang santun ketika bangsa ini dihadapkan aksi sikut menyikut antar golongan. Ulil tak berniat menyikut, melainkan 'mengelus' namun dianggap oleh beberapa golongan sebagai 'sikutan' atau bahkan 'tamparan'. Dan tak dihindarkan memang, dia 'disikut' dan 'disikat', dimintai pertanggunggjawaban dan bahkan disuruh bertaubat. Ulil menawarkan kebhinneka-an, mengajak pada toleransi.

Bhinneka Tunggal Ika, cita-cita leluhur bangsa, semoga dikembalikan ke posisi semula, posisi dimana ia dijunjung dan dipegang erat sebagai satu semboyan, diaplikasikan di kehidupan bangsa dimanapun tempatnya, mulai cangkruk warung kopi hingga 'cangkruk' di kantor para dewan yang 'terhormat'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar