Cateeeeeet.
Beberapa hari lalu salah satu temanku mengirim
broadcast di bbm, disitu tercantum bahwa ada seminar dengan narasumber ulil
abshar dan idrus madani, dua tokoh yang pernah berselisih di satu forum. Mereka
berdua merupakan tokoh yang memiliki pendapat yang berseberangan, namun mereka
berasal dari satu paham yakni aswaja an-nahdliyah. Tapi terlepas dari itu,
mereka memiliki pandangan yang mencolok, satu sisi ulil yang notabene adalah
tokoh pendiri JIL, yang merupakan kelompok yang menyuarakan dan menyerukan konsep
toleransi, moderat, dan liberal dalam beragama, dan di sisi satunya idrus
madani seringkali berseberangan dengan konsep yang ditawarkan oleh ulil.
Berangkat ke kampus, dengan mengenakan kostum
agak 'necis', hem lengan panjang, sweater, plus sepatu sneaker putih hasil
pinjaman. Terlihat sedikit lebih muda dari usia dan semesterku kini. Bertemu
beberapa teman disana, bincang pagi yang asik menurutku, mereka aktivis kampus,
penggiat buku 'berat', dan otomatis konten bincang pagi yang berat pula tapi
asik.
Beberapa saat kemudian, ku masuk ke gedung
rektorat tempat dilaksanakannya seminar, ini pertama kalinya ku menginjak kaki
disini. Sembari menunggu ulil abshar tiba, ku duduk di lobi rektorat. Lantas
ulil abshar tiba dengan kawalan oleh 'satpam' mahasiswa, teman-teman menyalami
beliau, namun tidak diriku, ku cukup melihat dari dekat, dia yang 'status'nya
'serumpun' denganku buatku kagum. Orang yang selama ini ku kagumi dengan pola
pemikirannya, akhirnya bertatap muka. Produk pemikiran yang dianggap aneh oleh
beberapa kalangan, bahkan pernah divonis 'halal' darahnya oleh sekelompok
fundamental. Tapi aku kagum dan penggiat tulisannya di situs JIL. Dia terlihat
santai dengan batik lengan pendek dan menenteng tablet. Ku mengikuti dari
belakang.
Ulil, menurutku berdiri tegap dan tegak diantara
gempuran dan gesekan. Bertahan pada pola pemikiran yang menurutnya adalah
solusi efektif di tengah keberagaman pemahaman mengenai agama, menyodorkan
konsep berbangsa yang santun ketika bangsa ini dihadapkan aksi sikut menyikut
antar golongan. Ulil tak berniat menyikut, melainkan 'mengelus' namun dianggap
oleh beberapa golongan sebagai 'sikutan' atau bahkan 'tamparan'. Dan tak
dihindarkan memang, dia 'disikut' dan 'disikat', dimintai pertanggunggjawaban
dan bahkan disuruh bertaubat. Ulil menawarkan kebhinneka-an, mengajak pada
toleransi.
Bhinneka Tunggal Ika, cita-cita leluhur bangsa,
semoga dikembalikan ke posisi semula, posisi dimana ia dijunjung dan dipegang
erat sebagai satu semboyan, diaplikasikan di kehidupan bangsa dimanapun
tempatnya, mulai cangkruk warung kopi hingga 'cangkruk' di kantor para dewan
yang 'terhormat'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar