Senin, 09 Maret 2015

tuntutan kerja



Banyak tipikal pekerjaan yang diminati masyarakat saat ini, di saat segala kebutuhan semakin sulit dijangkau oleh dompet, masyarakat kini dihadapkan dengan varian job yang menggiurkan. Online shop salah satunya, banyak yang bermunculan dengan beragam fitur yang memudahkan pengguna bertransaksi sesama. Banyak produk pribadi yang 'numpang' tenar melalui media social, dan itu cara efektif pemasaran saat ini. Lantas, apakah pola marketing tanpa mendayagunakan fasilitas 'online' masih efektif?, pola ini masih berlaku namun dengan catatan. Kualitas adalah jaminan, masih banyak penjual lalapan dengan pola sederhana dan rasa istimewa masih menjadi jujukan rutin para konsumen walau berlokasi di tempat yang terlihat kurang strategis. Bagi telinga mahasiswa malang, nama 'mak par' atau 'mak mis' dan juga 'mak ro' begitu familiar, emak-emak penjaja makanan sederhana dan ramah di kantong yang masih bertahan di tengah gempuran produk-produk dengan packaging yang wah.
Lantas pertanyaan besar yang timbul adalah, kapan kita memulai menjadi produsen bukan konsumen, menjadi bos baru bukan pelanggan baru. Berlaku bijak di tengah fasilitas yang kian menjerat, memanfaatkan apa yang perlu dimanfaatkan, sudah berapa juta tangan yang sehari-hari gesek sana-sini smartphone, stalking kanan-kini. Mereka adalah viewers yang skeptis, tingkat penasaran mereka sangat tinggi, dan mudah sekali termakan rumor-rumor aneh. Memanfaatkan online, untuk memamerkan produk pengguna, dan kita adalah pengguna, apa produk kita. Bukan ketenaran yang harus diidamkan melainkan produk yang berkualitas dan laku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar