Banyak tipikal pekerjaan yang diminati
masyarakat saat ini, di saat segala kebutuhan semakin sulit dijangkau oleh
dompet, masyarakat kini dihadapkan dengan varian job yang menggiurkan. Online
shop salah satunya, banyak yang bermunculan dengan beragam fitur yang
memudahkan pengguna bertransaksi sesama. Banyak produk pribadi yang 'numpang'
tenar melalui media social, dan itu cara efektif pemasaran saat ini. Lantas,
apakah pola marketing tanpa mendayagunakan fasilitas 'online' masih efektif?,
pola ini masih berlaku namun dengan catatan. Kualitas adalah jaminan, masih
banyak penjual lalapan dengan pola sederhana dan rasa istimewa masih menjadi
jujukan rutin para konsumen walau berlokasi di tempat yang terlihat kurang
strategis. Bagi telinga mahasiswa malang, nama 'mak par' atau 'mak mis' dan
juga 'mak ro' begitu familiar, emak-emak penjaja makanan sederhana dan ramah di
kantong yang masih bertahan di tengah gempuran produk-produk dengan packaging
yang wah.
Lantas pertanyaan besar yang timbul adalah,
kapan kita memulai menjadi produsen bukan konsumen, menjadi bos baru bukan
pelanggan baru. Berlaku bijak di tengah fasilitas yang kian menjerat,
memanfaatkan apa yang perlu dimanfaatkan, sudah berapa juta tangan yang
sehari-hari gesek sana-sini smartphone, stalking kanan-kini. Mereka adalah
viewers yang skeptis, tingkat penasaran mereka sangat tinggi, dan mudah sekali
termakan rumor-rumor aneh. Memanfaatkan online, untuk memamerkan produk
pengguna, dan kita adalah pengguna, apa produk kita. Bukan ketenaran yang harus
diidamkan melainkan produk yang berkualitas dan laku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar